Lanjut ke konten

MORE ABOUT MGMP SEJARAH ?

Sekretariat MGMP SEJARAH MA :
MAN 1 Surakarta Jl. Sumpah Pemuda 25 Surakarta 57136 e-mail : mgmpsejarah@yahoo.com
Kami terbuka untuk silaturahmi bagi rekan-rekan guru sejarah di seluruh Indonesia

MGMP Gelar Ekspedisi Sejarah di Semarang

6 Mei 2012

Dalam upaya memperdalam materi sejarah, khususnya objek-objek sejarah di kota Semarang, tanggal 5 Mei 2012 kemarin bersama teman-teman guru sejarah se-karesidenan Surakarta yang tergabung dalam MGMP Sejarah, mengadakan kegiatan Ekspedisi Sejarah di Semarang dengan mengambil objek Kelenteng Sam Poo Kong ( Cheng Ho) dan gedung Lawang Sewu. Kegiatan ini dalam rangkaian pergantian kepengurusan MGMP Sejarah Karesidenan Surakarta  periode 2010/2012.

Objek pertama yang dikunjungi adalah Kelenteng Sam Poo Kong yang berada di utara Semarang. Pernah mendengar nama Laksamana Cheng Ho ? Menurut literatur, Cheng Ho adalah seorang kasim Muslim yang menjadi orang kepercayaan Kaisar Yongle dari Tiongkok (berkuasa tahun 1403-1424), kaisar ketiga dari Dinasti Ming. Nama aslinya adalah Ma He, juga dikenal dengan sebutan Ma Sanbao, berasal dari provinsi Yunnan. Ketika pasukan Ming menaklukkan Yunnan, Cheng Ho ditangkap dan kemudian dijadikan orang kasim. Ia adalah seorang bersuku Hui, suku bangsa yang secara fisik mirip dengan suku Han, namun beragama Islam.

Dalam Ming Shi (Sejarah Dinasti Ming) tak terdapat banyak keterangan yang menyinggung tentang asal-usul Cheng Ho. Cuma disebutkan bahwa dia berasal dari Provinsi Yunnan, dikenal sebagai kasim (abdi) San Bao. Nama itu dalam dialek Fujian biasa diucapkan San Po, Sam Poo, atau Sam Po. Sumber lain menyebutkan, Ma He (nama kecil Cheng Ho) yang lahir tahun Hong Wu ke-4 (1371 M) merupakan anak ke-2 pasangan Ma Hazhi dan Wen.

Saat Ma He berumur 12 tahun, Yunnan yang dikuasai Dinasti Yuan direbut oleh Dinasti Ming. Para pemuda ditawan, bahkan dikebiri, lalu dibawa ke Nanjing untuk dijadikan kasim istana. Tak terkecuali Cheng Ho yang diabdikan kepada Raja Zhu Di di istana Beiping (kini Beijing).
Di depan Zhu Di, kasim San Bao berhasil menunjukkan kehebatan dan keberaniannya. Misalnya saat memimpin anak buahnya dalam serangan militer melawan Kaisar Zhu Yunwen (Dinasti Ming). Abdi yang berpostur tinggi besar dan bermuka lebar ini tampak begitu gagah melibas lawan-lawannya. Akhirnya Zhu Di berhasil merebut tahta kaisar.
Ketika kaisar mencanangkan program pengembalian kejayaan Tiongkok yang merosot akibat kejatuhan Dinasti Mongol (1368), Cheng Ho menawarkan diri untuk mengadakan muhibah ke berbagai penjuru negeri. Kaisar sempat kaget sekaligus terharu mendengar permintaan yang tergolong nekad itu. Bagaimana tidak, amanah itu harus dilakukan dengan mengarungi samudera. Namun karena yang hendak menjalani adalah orang yang dikenal berani, kaisar oke saja.
Berangkatlah armada Tiongkok di bawah komando Cheng Ho (1405). Terlebih dahulu rombongan besar itu menunaikan shalat di sebuah masjid tua di kota Quanzhou (Provinsi Fujian). Pelayaran pertama ini mampu mencapai wilayah Asia Tenggara (Semenanjung Malaya, Sumatera, dan Jawa). Tahun 1407-1409 berangkat lagi dalam ekspedisi kedua. Ekspedisi ketiga dilakukan 1409-1411. Ketiga ekspedisi tersebut menjangkau India dan Srilanka. Tahun 1413-1415 kembali melaksanakan ekspedisi, kali ini mencapai Aden, Teluk Persia, dan Mogadishu (Afrika Timur). Jalur ini diulang kembali pada ekspedisi kelima (1417-1419) dan keenam (1421-1422). Ekspedisi terakhir (1431-1433) berhasil mencapai Laut Merah.
Cheng Ho berlayar ke Malaka pada abad ke-15. Saat itu, seorang putri Tiongkok, Hang Li Po (atau Hang Liu), dikirim oleh kaisar Tiongkok untuk menikahi Raja Malaka (Sultan Mansur Shah). Pada tahun 1424, kaisar Yongle wafat. Penggantinya, Kaisar Hongxi (berkuasa tahun 1424-1425, memutuskan untuk mengurangi pengaruh kasim di lingkungan kerajaan. Cheng Ho melakukan satu ekspedisi lagi pada masa kekuasaan Kaisar Xuande (berkuasa 1426-1435).

Kapal yang ditumpangi Cheng Ho disebut ‘kapal pusaka’ merupakan kapal terbesar pada abad ke-15. Panjangnya mencapai 44,4 zhang (138 m) dan lebar 18 zhang (56 m). Lima kali lebih besar daripada kapal Columbus. Menurut sejarawan, JV Mills kapasitas kapal tersebut 2500 ton.

Model kapal itu menjadi inspirasi petualang Spanyol dan Portugal serta pelayaran modern di masa kini. Desainnya bagus, tahan terhadap serangan badai, serta dilengkapi teknologi yang saat itu tergolong canggih seperti kompas magnetik.

Cheng Ho melakukan ekspedisi ke berbagai daerah di Asia dan Afrika, antara lain:


Vietnam, Taiwan, Malaka / bagian dari Malaysia, Sumatra / bagian dari Indonesia, Jawa / bagian dari Indonesia, Sri Lanka,  India bagian Selatan, Persia Teluk Persia, Arab, Laut Merah, ke utara hingga Mesir Afrika, ke selatan hingga Selat Mozambik.
Karena beragama Islam, para temannya mengetahui bahwa Cheng Ho sangat ingin melakukan Haji ke Mekkah seperti yang telah dilakukan oleh almarhum ayahnya, tetapi para arkeolog dan para ahli sejarah belum mempunyai bukti kuat mengenai hal ini. Cheng Ho melakukan ekspedisi paling sedikit tujuh kali dengan menggunakan kapal armadanya.
Armada ini terdiri dari 27.000 anak buah kapal dan 307 (armada) kapal laut. Terdiri dari kapal besar dan kecil, dari kapal bertiang layar tiga hingga bertiang layar sembilan buah. Kapal terbesar mempunyai panjang sekitar 400 feet atau 120 meter dan lebar 160 feet atau 50 meter. Rangka layar kapal terdiri dari bambu Tiongkok. Selama berlayar mereka membawa perbekalan yang beragam termasuk binatang seperti sapi, ayam dan kambing yang kemudian dapat disembelih untuk para anak buah kapal selama di perjalanan. Selain itu, juga membawa begitu banyak bambu Tiongkok sebagai suku cadang rangka tiang kapal berikut juga tidak ketinggalan membawa kain Sutera untuk dijual.

Majalah Life menempatkan Cheng Ho sebagai nomor 14 orang terpenting dalam milenium terakhir. Perjalanan Cheng Ho ini menghasilkan Peta Navigasi Cheng Ho yang mampu mengubah peta navigasi dunia sampai abad ke-15. Dalam buku ini terdapat 24 peta navigasi mengenai arah pelayaran, jarak di lautan, dan berbagai pelabuhan.

Cheng Ho adalah penjelajah dengan armada kapal terbanyak sepanjang sejarah dunia yang pernah tercatat. Juga memiliki kapal kayu terbesar dan terbanyak sepanjang masa hingga saat ini. Selain itu beliau adalah pemimpin yang arif dan bijaksana, mengingat dengan armada yang begitu banyaknya beliau dan para anak buahnya tidak pernah menjajah negara atau wilayah dimanapun tempat para armadanya merapat.

CHENG HO DAN INDONESIA

Cheng Ho mengunjungi kepulauan di Indonesia selama tujuh kali. Ketika ke Samudera Pasai, ia memberi lonceng raksasa “Cakra Donya” kepada Sultan Aceh, yang kini tersimpan di museum Banda Aceh.

Tahun 1415, Cheng Ho berlabuh di Muara Jati (Cirebon), dan menghadiahi beberapa cindera mata khas Tiongkok kepada Sultan Cirebon. Salah satu peninggalannya, sebuah piring yang bertuliskan ayat Kursi masih tersimpan di Keraton Kasepuhan Cirebon.

Pernah dalam perjalanannya melalui Laut Jawa, Wang Jinghong (orang kedua dalam armada Cheng Ho) sakit keras. Wang akhirnya turun di pantai Simongan, Semarang, dan menetap di sana. Salah satu bukti peninggalannya antara lain Kelenteng Sam Poo Kong (Gedung Batu) serta patung yang disebut Mbah Ledakar Juragan Dampo Awang Sam Poo Kong. Itulah informasi seputar Cheng ho yang aku dapatkan dari berbagai literatur.

MENGAPA KELENTENG ?

Banyak orang yang bertanya mengapa ada bangunan Kelenteng di tempat yang dulu Cheng Ho pernah mendarat di sana. Pertanyaan itu juga yang sempat mampir di benak semua guru sejarah. Karena seperti telah diketahui Cheng Ho adalah seorang muslim. Jawaban itu baru didapatkan ketika pemandu wisata kami memberikan jawaban bahwa keberadaan bangunan kelenteng baru ada setelah 300 tahun setelah Cheng Ho mendarat di Semarang. Itu sebagai wujud penghormatan orang-orang China ( Kong Hu Chu) kepada Cheng Ho yang dianggap sebagai moyangnya. Karena Cheng Ho seorang muslim maka di tempat itu juga dibangun sebuah Masjid sebagai penghoratan kepada Cheng Ho. Namun yang aku lihat, bangunan Masjid itu hanya sebagai “simbol” akulturasi saja karena masjid itu tidak dipergunakan untuk sembahyang secara resmi. Satu hal yang terlihat bahwa simbol-simbol yang ada di bangunan Masjid itu ada perpaduan China, Jawa dan Islam.

Bergambar bersama di depan Masjid Cheng Ho

Disebelah masjid tersebut berdiri bangunan yang konon adalah tempat bersemayamnya orang kedua laksamana Cheng Ho yaitu Wang Jinghong (orang kedua dalam armada Cheng Ho). Orang-orang Jaangwa sering menyebutnya dengan Dampo Awang.

Bangunan tempat bersemayamnya Dampo Awang

Objek kedua adalah gedung Lawang Sewuyang berada di kawasan simpang lima Semarang. Terus terang saja baru kali ini rombongan mengunjungi tempat ini. Selama ini aku hanya mengetahuinya dari tayangan TV, apalagi pernah ada acara uji nyali yang mengambil tempat di gedung ini. Rasa penasaran akan gedung ini membuatku sangat antusias mengunjunginya. Tapi tahukah kita sejarah gedung Lawang Sewu  ?

Lawang Sewu merupakan sebuah gedung di Semarang, Jawa Tengah yang merupakan kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Dibangun pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907. Terletak di bundaran Tugu Muda yang dahulu disebut Wilhelminaplein.

Masyarakat setempat menyebutnya Lawang Sewu (Seribu Pintu) dikarenakan bangunan tersebut memiliki pintu yang sangat banyak. Kenyataannya, pintu yang ada tidak sampai seribu. Bangunan ini memiliki banyak jendela yang tinggi dan lebar, sehingga masyarakat sering menganggapnya sebagai pintu (lawang).

Bangunan kuno dan megah berlantai dua ini setelah kemerdekaan dipakai sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) atau sekarang PT Kereta Api Indonesia. Selain itu pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Perhubungan Jawa Tengah. Pada masa perjuangan gedung ini memiliki catatan sejarah tersendiri yaitu ketika berlangsung peristiwa Pertempuran lima hari di Semarang (14 Oktober – 19 Oktober 1945). Gedung tua ini menjadi lokasi pertempuran yang hebat antara pemuda AMKA atau Angkatan Muda Kereta Api melawan Kempetai dan Kidobutai, Jepang. Maka dari itu Pemerintah Kota Semarang dengan Surat Keputusan Wali Kota Nomor. 650/50/1992, memasukan Lawang Sewu sebagai salah satu dari 102 bangunan kuno atau bersejarah di Kota Semarang yang patut dilindungi.

Saat ini bangunan tua tersebut telah mengalami tahap konservasi dan revitalisasi yang dilakukan oleh Unit Pelestarian benda dan bangunan bersejarah PT Kereta Api Persero.

Sejarah Bangunan Lawang Sewu

Lawang Sewu adalah salah satu bangunan bersejarah yang dibangun oleh pemerintahan kolonial Belanda, pada 27 Februari 1904. Awalnya bangunan tersebut didirikan untuk digunakan sebagai Het Hoofdkantoor van de Nederlansch Indische Spoorweg Maatscappij (NIS) atau Kantor Pusat Perusahan Kereta Api Swasta NIS. Sebelumnya kegiatan administrasi perkantoran NIS dilakukan di Stasiun Samarang NIS. Namun pertumbuhan jaringan perkeretaapian yang cukup pesat, dengan sendirinya membutuhkan penambahan jumlah personel teknis dan bagian administrasi yang tidak sedikit seiring dengan meningkatnya aktivitas perkantoran. Salah satu akibatnya kantor pengelola di Stasiun Samarang NIS menjadi tidak lagi memadai. NIS pun menyewa beberapa bangunan milik perseorangan sebagai jalan keluar sementara. Namun hal tersebut dirasa tidak efisien. Belum lagi dengan keberadaan lokasi Stasiun Samarang NIS yang terletak di kawasan rawa-rawa hingga urusan sanitasi dan kesehatan pun menjadi pertimbangan penting. Kemudian diputuskan untuk membangun kantor administrasi di lokasi baru. Pilihan jatuh ke lahan yang pada masa itu berada di pinggir kota berdekatan dengan kediaman Residen. Letaknya di ujung Bodjongweg Semarang (sekarang Jalan Pemuda), di sudut pertemuan Bodjongweg dan Samarang naar Kendalweg (jalan raya menuju Kendal). NIS mempercayakan rancangan gedung kantor pusat NIS di Semarang kepada Prof. Jacob F. Klinkhamer (TH Delft) dan B.J. Ouendag, arsitek yang berdomisili di Amsterdam. Seluruh proses perancangan dilakukan di Negeri Belanda, baru kemudian gambar-gambar dibawa ke kota Semarang. Melihat dari cetak biru Lawang Sewu tertulis bahwa site plan dan denah bangunan ini telah digambar di Amsterdam pada tahun 1903. Begitu pula kelengkapan gambar kerjanya dibuat dan ditandatangkan dari Amsterdam tahun 1903.

Ada apa saja di Lawang Sewu ?

Karena gedung ini adalah peninggalan  dari Jawatan Perkeretaapian Belanda, maka yang ada di di situ adalah semua hal yang berhubungan dengan kereta api. Seperti sejarah perkeretaapian di Jawa, Pembangunan gedung Lawang sewu, Alat-alat kereta api jaman doleoe, dan masih banyak lagi. Seperti yang aku lihat di salah satu ruangan adalah alat pemindah jalur rel kereta apai jaman belanda yang masih sangat jadul. Juga ada alat pemindah jalur rel jaman sekarang.

Hal lain yang menarik dari gedung lawang sewu adalah bangunan-bangunan tua yang bergaya Eropa (khususnya Belanda). Serasa kita berada di Belanda. Apalagi bangunan-bangunan itu masih terawat baik sehingga sangat menarik untuk dikunjungi. Satu hal yang membuat aku kagum adalah bangunan yang ada masih sangat kokoh dan kuat. Hal ini menunjukkan bahwa seni arsitektur Belanda sangat baik.

Hal lain yang juga harus dicoba di gedung lawang sewu adalah wisata bawah tanahnya. Pengunjung akan diajak menyusuri lorong-lorong bawah tanah yang pada masa Belanda adalah saluran air dan pengatur air. Namun pada jaman Jepang, tempat itu menjadi penjara dan tempat pembantaian para pejuang Indonesia yang tertangkap. Bahkan ada satu tempat yang disebut ” Penjara Berdiri ” yang pada masa itu digunakan untuk memenjarakan para pejuang dengan posisi berdiri dan satu tempat diisi oleh 5 orang kemudian ditutup dari luar. Jika para tawanan telah mati karena penyiksaan dan pembantaian, mayatnya akan dibuang lewat lubang kecil ke sungai di dekat penjara.

Berfoto di tempat Uji Nyali TRANS TV

Semoga dengan kegiatan ini dapat menambah wawasan baru bagi guru-guru sejarah dan selanjutnya bisa menjadi pengalaman untuk melaksanakan tugas berikutnya.

MGMP Gelar Workshop Silabus-RPP Berkarakter

24 Oktober 2011

Dalam upaya meningkatkan kualitas guru-guru sejarah khususnya dalam menyikapi penerapan kurikulum berbasis karakter, maka MGMP Sejarah Karesidenan Surakarta menggelar Workshop Penyusunan Silabus-RPP Berbasis Karakter yang dilaksanakan pada 22 Oktober 2011 bertempat di MAN 2 Surakarta Jl. Slamet Riyadi 308 Surakarta. Acara yang diadakan bekerjasama dengan Balai Diklat Keagamaan Semarang ini, diikuti oleh sekitar 40 guru-guru sejarah MA baik negeri maupun swasta di wilayah karesidenan Surakarta. Acara dibuka dengan acara seremonial berupa sambutan-sambutan antara lain dari Ketua MGMP Sejarah Muhammad Ikhsan Sumari, S.Pd. Dalam sambutannya, Muhammad Ihsan Sumari menyatakan kegiatan workshop diadakan sebagai upaya agar guru-guru sejarah tidak ketinggalan “kereta” dalam mensikapi penerapan Kurikulum berbasis Karakter. Karena menjadi tugas semua guru untuk selalu mengikuti berbagai perkembangan khususnya mengenai kebijakan pemerintah tentang kurikulum yang sering berganti-ganti.

Sambutan kedua dari K4MA yang diwakili oleh Drs. H. Agus Hadi Susanto, M.S.I, yang kembali menegaskan bahwa kurikulum berbasis karakter adalah suatu keniscayaan sehingga semua guru-guru, termasuk guru sejarah agar bisa menyesuaikan dan mampu menyusunnya. Karenanya beliau menyambut baik dengan adanya kegiatan workshop penyusunan kurikulum berbasis karakter yang diadakan oleh MGMP sejarah.

Tibalah pada acara inti yaitu pemaparan materi tentang penyusunan silabus-RPP berkarakter yang disampaikan oleh Drs. Muhroji Arifin, S.Ag, M.Ag, Widyaiswara Madya Balai Diklat Keagamaan Semarang. Mengawali pemaparan materinya pak Arifin menyatakan bahwa keberhasilan pembelajaran bisa dilihat dari beberap indikator antara lain :

  1. Penguasaan konten/isi
  2. Perencanaan yang baik
  3. Penggunaan media yang sesuai
  4. Setting kelas yang menarik
  5. Penerapan model dan strategi yang sesuai
  6. Proses pembelajaran yang mengaktifkan siswa

Dari indikator-indikator di atas salah satunya adalah perencanaan yang baik, yang berhubungan dengan penyusunan Silabus dan RPP. Karena sekarang sedang digalakkan silabus-RPP berbasis karakter maka semua guru, khususnya guru sejarah, harus bisa menyusun dan menerapkan di unit kerja masing-masing. Untuk pengembangan silabus berkarakter, menurut Pak Arifin ada beberapa hal yang harus diperhatikan guru yaitu :

1. Menguasai PBKB (Pendidikan  Budaya dan Karakter Bangsa)

2. Menjelaskan 18 Karakter Bangsa yang akan dikembangkan dalam pembelajaran

3. Menentukan karakter utama yang perlu ditanamkan kepada siswa melalui pembelajaran sejarah di MA

4. Memetakan Karakter yang sesuai dengan KD yang dipelajarai

5. Mengembangkan silabus dengan menginternalisasi Karakter Bangsa

Untuk mengetahui hasil workshop penyusunan silabus-RPP berkarakter selengkapnya silahkan klik link di bawah ini :

BAHAN PELATIHAN GURU SEJARAH MA

Langkah menyusun silabus berkarakter

Berikut foto-foto kegiatan workshop MGMP Sejarah :

This slideshow requires JavaScript.

Kumpulan Artikel Unik Tentang Sejarah Republik Indonesia

10 September 2011

Di Bawah ini ada artikel yang menarik yang saya ambil dari sebuah link, semoga bisa bermanfaat dan menambah wawasan kita tentang sejarah detik2 proklamasi yang sebagian orang tidak tahu bagaimana keadaan saat itu Mungkinkah Revolusi kemerdekaan Indonesia disebut sebagai revolusi dari kamar tidur? Coba simak ceritanya:

Pada 17 Agustus 1945 pukul 08.00, ternyata Bung Karno masih tidur nyenyak di kamarnya, di Jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini. Dia terkena gejala malaria tertiana. Suhu badannya tinggi dan sangat lelah setelah begadang bersama para sahabatnya menyusun konsep naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda. “Pating greges”, keluh Bung Karno setelah dibangunkan dokter kesayangannya. Kemudian darahnya dialiri chinineurethan intramusculair dan menenggak pil brom chinine. Lalu ia tidur lagi. Pukul 09.00, Bung Karno terbangun. Berpakaian rapi putih-putih dan menemui sahabatnya, Bung Hatta. Tepat pukul 10.00, keduanya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dari serambi rumah.
Demikianlah Saudara-saudara! Kita sekalian telah merdeka!, ujar Bung Karno di hadapan segelintir patriot-patriot sejati. Mereka lalu menyanyikan lagu kebangsaan sambil mengibarkan bendera pusaka Merah Putih. Setelah upacara yang singkat itu, Bungk Karno kembali ke kamar tidurnya. Masih meriang. Tapi sebuah revolusi telah dimulai…

**********************
Upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ternyata berlangsung tanpa protokol, tak ada korps musik, tak ada konduktor dan tak ada pancaragam. Tiang bendera pun dibuat dari batang Bambu secara kasar, serta ditanam hanya beberapa menit menjelang upacara. Tetapi itulah, kenyataan yang yang terjadi pada sebuah upacara sakral yang dinanti-nanti selama lebih dari tiga ratus tahun!

***********************
Setelah merdeka 66 tahun, Indonesia baru memiliki seorang menteri pertama yang benar-benar “orang Indonesia asli”. Karena semua menteri sebelumnya lahir sebelum 17 Agustus 1945. Itu berarti, mereka pernah menjadi warga Hindia Belanda dan atau pendudukan Jepang, sebab negara hukum Republik
Indonesia memang belum ada saat itu.
“Orang Indonesia asli” pertama yang menjadi menteri adalah Ir Akbar Tanjung (lahir di Sibolga, Sumatera Utara, 30 Agustus 1945), sebagai Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga pada Kabinet Pembangunan V (1988-1993).

***********************
Menurut Proklamasi 17 Agustus 1945, Kalimantan adalah bagian integral wilayah hukum Indonesia. Kenyataannya, pulau tersebut paling unik di dunia. Di pulau tersebut, ada 3 kepala negara yang memerintah! Presiden Soeharto
(memerintah 4 wilayah provinsi), PM Mahathir Mohamad (Sabah dan Serawak) serta Sultan Hassanal Bolkiah (Brunei).

************************
Hubungan antara revolusi Indonesia dan Hollywood, memang dekat. Setiap 1 Juni, selalu diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila semasa Presiden
Soekarno. Pada 1956, peristiwa tersebut “hampir secara kebetulan” dirayakan di sebuah hotel Hollywood.
Bung Karno saat itu mengundang aktris legendaris, Marylin Monroe, untuk
sebuah makan malam di Hotel Beverly Hills, Hollywood. Hadir di antaranya Gregory Peck, George Murphy dan Ronald Reagan (25 tahun kemudian menjadi Presiden AS). Yang unik dari pesta menjelang Hari Lahir Pancasila itu, adalah kebodohan Marilyn dalam hal protokol. Pada pesta itu, Maryln menyapa Bung Karno bukan dengan “Mr President” atau “Your Excellency”, tetapi dengan “Prince Soekarno!”

*************************
Ada lagi hubungan erat antara 17 Agustus dan Hollywood. Judul pidato 17
Agustus 1964, “Tahun Vivere Perilocoso” (Tahun yang Penuh Bahaya),
telah dijadikan judul sebuah film The Year of Living Dangerously. Film
tersebut menceritakan pegalaman seorang wartawan asing di Indonesia
pada 1960-an. Pada 1984, film yang dibintangi Mel Gibson itu mendapat
Oscar untuk kategori film asing!

*************************
Naskah asli teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang ditulis tangan oleh Bung Karno dan didikte oleh Bung Hatta, ternyata tidak pernah dimiliki dan disimpan oleh Pemerintah! Anehnya, naskah historis tersebut justru disimpan dengan baik oleh wartawan BM Diah. Diah menemukan draft proklamasi itu di keranjang sampah di rumah Laksamana Maeda, 17 Agustus 1945 dini hari, setelah disalin dan diketik oleh Sajuti Melik.
Pada 29 Mei 1992, Diah menyerahkan draft tersebut kepada Presiden Soeharto, setelah menyimpannya selama 46 tahun 9 bulan 19 hari.

************************
Ketika tiba di Pelabuhan Sunda Kelapa 9 Juli 1942 siang bolong, Bung Karno
mengeluarkan komentar pertama yang janggal didengar. Setelah menjalani
pengasingan dan pembuangan oleh Belanda di luar Jawa, Bung Karno justru
tidak membicarakan strategis perjuangan menentang penjajahan. Masalah
yang dibicarakannya, hanya tentang sepotong jas!
“Potongan jasmu bagus sekali!” komentar Bung Karno pertama kali tentang jas double breast yang dipakai oleh bekas iparnya, Anwar Tjikoroaminoto, yang
menjemputnya bersama Bung Hatta dan segelintir tokoh nasionalis.

*************************
Rasa-rasanya di dunia ini, hanya the founding fathers Indonesia yang pernah mandi air seni. Saat pulang dari Dalat (Cipanasnya Saigon), Vietnam, 13 Agustus 1945, Soekarno bersama Bung Hatta, dr Radjiman Wedyodiningrat
dan dr Soeharto (dokter pribadi Bung Karno) menumpang pesawat fighter bomber bermotor ganda. Dalam perjalanan, Soekarno ingin sekali buang air kecil, tetapi tak ada tempat. Setelah dipikir, dicari jalan keluarnya untuk Hasrat yang tak tertahan itu. Melihat lubang-lubang kecil di dinding pesawat, di situlah Bung Karno melepaskan hajat kecilnya. Karena angin begitu kencang sekali, bersemburlah air seni itu dan membasahi semua penumpang. Byuuur…

***************************
Berkat kebohongan, peristiwa sakral Proklamasi 17 Agustus 1945 dapat didokumentasikan dan disaksikan oleh kita hingga kini. Saat tentara Jepang ingin merampas negatif foto yang mengabadikan peristiwa penting tersebut, Frans Mendoer, fotografer yang merekam detik-detik proklamasi, berbohong kepada mereka. Dia bilang tak punya negatif itu dan sudah diserahkan kepada Barisan Pelopor, sebuah gerakan perjuangan. Mendengar jawaban itu, Jepang pun marah besar. Padahal negatif film itu ditanam di bawah sebuah pohon di halaman Kantor harian Asia Raja. Setelah Jepang pergi, negatif itu diafdruk dan dipublikasi secara luas hingga bisa dinikmati sampai sekarang. Bagaimana kalau Mendoer bersikap jujur pada Jepang?

****************************
Kali ini, Bung Hatta yang berbohong demi proklamasi. Waktu masa revolusi, Bung Karno memerintahkan Bung Hatta untuk meminta bantuan senjata kepada Jawaharlal Nehru. Cara untuk pergi ke India pun dilakukan secara rahasia. Bung Hatta memakai paspor dengan nama “Abdullah, co-pilot”.
Lalu beliau Berangkat dengan pesawat yang dikemudikan Biju Patnaik, seorang industrialis yang kemudian menjadi menteri pada kabinet PM Morarji
Desai. Bung Hatta diperlakukan sangat hormat oleh Nehru dan diajak bertemu Mahatma Gandhi. Nehru adalah kawan lama Hatta sejak 1920-an dan Gandhi mengetahui perjuangan Hatta.
Setelah pertemuan, Gandhi diberi tahu oleh Nehru bahwa “Abdullah” itu adalah Mohammad hatta. Apa reaksi Gandhi? Dia marah besar kepada Nehru, karena tidak diberi tahu yang sebenarnya. “You are a liar !” ujar tokoh kharismatik itu kepada Nehru

****************************
Bila 17 Agustus menjadi tanggal kelahiran Indonesia, justru tanggal tersebut
menjadi tanggal kematian bagi pencetus pilar Indonesia. Pada tanggal itu, pencipta lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, WR Soepratman (wafat 1937) dan pencetus ilmu bahasa Indonesia, Herman Neubronner van der Tuuk (wafat 1894) meninggal dunia.

***************************
Bendera Merah Putih dan perayaan tujuh belasan bukanlah monopoli Indonesia. Corak benderanya sama dengan corak bendera Kerajaan Monaco dan hari kemerdekaannya sama dengan hari proklamasi Republik Gabon (sebuah negara di Afrika Barat) yang merdeka 17 Agustus 1960.

****************************
Jakarta, tempat diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia dan kota tempat Bung Karno dan Bung Hatta berjuang, tidak memberi imbalan yang cukup untuk mengenang co-proklamator Indonesia. Sampai detik ini, tidak ada “Jalan Soekarno-Hatta” di ibu kota Jakarta. Bahkan, nama mereka tidak pernah diabadikan untuk sebuah objek bangunan fasilitas umum apa pun sampai 1985, ketika sebuah bandara diresmikan dengan memakai nama mereka.

****************************
Gelar Proklamator untuk Bung Karno dan Bung Hatta, hanyalah gelar lisan yang diberikan rakyat Indonesia kepadanya selama 41 tahun! Sebab, baru 1986 Permerintah memberikan gelar proklamator secara resmi kepada mereka.

****************************
Kalau saja usul Bung Hatta diterima, tentu Indonesia punya “lebih dari dua”
proklamator. Saat setelah konsep naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia rampung disusun di rumah Laksamana Maeda, Jl Imam Bonjol no 1, Jakarta, Bung Hatta mengusulkan semua yang hadir saat rapat dini hari itu ikut menandatangani teks proklamasi yang akan dibacakan pagi harinya. Tetapi usul ditolak oleh Soekarni, seorang pemuda yang hadir. Rapat itu dihadiri Soekarno, Hatta dan calon proklamator yang gagal :
Achmad Soebardjo, Soekarni dan Sajuti Melik. “Huh, diberi kesempatan membuat sejarah tidak mau”, gerutu Bung Hatta karena usulnya ditolak.

****************************
Perjuangan frontal melawan Belanda, ternyata tidak hanya menelan korban rakyat biasa, tetapi juga seorang menteri kabinet RI. Soepeno, Menteri Pembangunan dan Pemuda dalam Kabinet Hatta, merupakan satu-satunya menteri yang tewas ditembak Belanda.
Sebuah ujung revolver, dimasukkan ke dalam mulutnya dan diledakkan secara keji oleh seorang tentara Belanda. Pelipis kirinya tembus kena peluru. Kejadian tersebut terjadi pada 24 Februari 1949 pagi di sebuah tempat di Kabupaten Nganjuk , Jawa Timur. Saat itu, Soepeno dan ajudannya sedang mandi sebuah pancuran air terjun.

****************************
Belum ada negara di dunia yang memiliki ibu kota sampai tiga dalam kurun waktu relatif singkat. Antara 1945 dan 1948, Indonesia mempunyai 3 ibu kota, yakni Jakarta (1945-1946), Yogyakarta ( 1946-1948 ) dan Bukittinggi (1948-1949).

****************************
Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia Jenderal Soedirman, pada kenyatannya tidak pernah menduduki jabatan resmi di kabinet RI. Beliau tidak pernah menjadi KSAD, Pangab, bahkan menteri pertahanan sekalipun!

****************************
Wayang ternyata memiliki simbol pembawa sial bagi rezim yang memerintah
Indonesia. Betapa tidak, pada 1938-1939, Pemerintah Hindia Belanda melalui De Javasche Bank menerbitkan uang Kertas seri wayang orang dan pada 1942, Hindia Belanda runtuh dikalahkan Jepang.
Pada 1943, Pemerintah Pendudukan Jepang menerbitkan uang kertas seri wayang Arjuna dan Gatotkoco dan 1945, Jepang terusir dari Indonesia oleh pihak Sekutu.
Pada 1964, Presiden Soekarno mengeluarkan uang kertas baru seri wayang dengan pecahan Rp 1 dan Rp 2,5 dan 1965 menjadi awal keruntuhan
pemerintahannya menyusul peristiwa G30S/PKI.

*****************************
Perintah pertama Presiden Soekarno saat dipilih sebagai presiden pertama RI,
bukanlah membentuk sebuah kabinet atau menandatangani sebuah dekret, melainkan memanggil tukang sate !!! Itu dilakukannya dalam perjalanan pulang, setelah terpilih secara Aklamasi sebagai presiden. Kebetulan di jalan bertemu seorang tukang sate bertelanjang dada dan nyeker (tidak memakai alas kaki).
“Sate ayam lima puluh tusuk!”, perintah Presiden Soekarno.
Disantapnya sate dengan lahap dekat sebuah selokan yang kotor. Dan itulah, perintah pertama pada rakyatnya sekaligus pesta pertama atas pengangkatannya sebagai pemimpin dari 70 juta jiwa lebih rakyat dari sebuah negara besar yang baru berusia satu hari.

*****************************
Kita sudah mengetahui, hubungan antara Bung Karno dan Belanda tidaklah mesra. Tetapi Belanda pernah memberikan kenangan yang tak akan pernah
dilupakan oleh Bung Karno.
Enam hari menjelang Natal 1948, Belanda memberikan hadiah Natal di Minggu pagi, saat orang ingin pergi ke gereja, berupa bom yang menghancurkan atap dapurnya. Hari itu, 19 Desember 1948, ibu kota Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda.

******************************
Sutan Sjahrir, mantan Perdana Menteri RI pertama, menjadi orang Indonesia yang memiliki prestasi “luar biasa” dan tidak akan pernah ada yang
menandinginya. Waktu beliau wafat 1966 di Zurich, Swiss, statusnya sebagai tahanan politik. Tetapi waktu dimakamkan di Jakarta beberapa hari kemudian, statusnya berubah sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

Sejarah Penemuan Fosil Manusia Purba, Manusia Kera dan Manusia Modern

10 September 2011

Secara umum penemuan fosil manusia dari jaman ke zaman terbagi atas tiga kelompok, yaitu manusia kera, manusia purba dan manusia modern.

Yang perlu diingat adalah bahwa teori ini hanya dugaan dan tidak terbukti kebenarannya karena teori evolusi telah runtuh. Fosil manusia lama yang ditemukan bisa saja bukan fosil manusia atau manusia yang memiliki bentuk ciri tubuh yang unik, atau bahkan hasil rekayasa.

A. Manusia Kera dari Afrika Selatan

1. Australopithecus Africanus

Australopithecus africanus ditemukan di desa Taung di sekitar Bechunaland ditemukan oleh Raymond Dart tahun 1924. Bagian tubuh yang ditemukan hanya fosil tengkorak kepala saja.

2. Paranthropus Robustus dan Paranthropus Transvaalensis


Dua penemuan tersebut ditemukan di daerah Amerika Selatan dengan ciri isi volume otak sekitar 600 cm kubik, hidup di lingkungan terbuka, serta memiliki tinggi badan kurang lebih 1,5 meter. Kedua fosil menusia kera tersebut disebut australopithecus.

B. Manusia Purba / Homo Erectus

1. Sinanthropus Pekinensis

Sinanthropus pekinensis adalah manusia purba yang fosilnya ditemukan di gua naga daerah Peking negara Cina oleh Davidson Black dan Franz Weidenreich. Sinanthropus pekinensis dianggap bagian dari kelompok pithecanthropus karena memiliki ciri tubuh atau badan yang mirip serta hidup di era zaman yang bersamaan. Sinanthropus pekinensis memiliki volume isi otak sekitar kurang lebih 900 sampai 1200 cm kubik.

2. Meganthropus Palaeojavanicus / Manusia Raksasa Jawa

Meganthropus palaeojavanicus ditemukan di Sangiran di pulau jawa oleh Von Koningswald pada tahun 1939 – 1941.

3. Manusia Heidelberg

Manusia Heidelberg ditemukan di Jerman

4. Pithecanthropus Erectus

Pithecanthropus erectus adalah manusia purba yang pertama kali fosil telang Belulang ditemukan di Trinil Jawa Tengah pada tahun 1891 oleh Eugene Dubois. Pithecanthropus erectus hidup di jaman pleistosin atau kira-kira 300.000 hingga 500.000 tahun yang lalu. Volume otak Pithecanthropus erectus diperkirakan sekitar 770 – 1000 cm kubik. Bagian tulang-belulang fosil manusia purba yang ditemukan tersebut adalah tulang rahang, beberapa gigi, serta sebagian tulang tengkorak.

C. Manusia Modern
Pengertian atau arti definisi manusia modern adalah manusia yang termasuk ke dalam spesies homo sapiens dengan isi volum otak kira-kira 1450 cm kubik hidup sekitar 15.000 hingga 150.000 tahun yang lalu. Manusia modern disebut modern karena hampir mirip atau menyerupai manusia yang ada pada saat ini atau sekarang.

1. Manusia SwanscombeBerasal dari Inggris

2. Manusia Neandertal – Ditemukan di lembah Neander

3. Manusia Cro-Magnon / Cromagnon / Crogmanon – Ditemukan di gua Cro-Magnon, Lascaux Prancis. Dicurigai sebagai campuran antara manusia Neandertal dengan manusia Gunung Carmel.

4. Manusia Shanidar – Fosil dijumpai di Negara Irak

5. Manusia Gunung Carmel – Ditemukan di gua-gua Tabun serta Skhul Palestina

6. Manusia Steinheim – Berasal dari Jerman

MGMP Gelar DDTK PTK

26 Mei 2011

Dalam upaya meningkatkan kompetensi guru-guru sejarah MA dalam hal melaksankan PTK ( penelitian tindakan kelas), maka pada tanggal 23 – 26 Mei 2011 diadakan DDTK ( Diklat Di Tempat Kerja) dengan materi diklat Cara Menyusun Penelitian Tindakan Kelas, bekerjasama dengan Balai Diklat Keagamaan (BDK) Semarang bertempat di MTs N 1 Surakarta dan MAN 1 Surakarta. Kegiatan diikuti oleh 30 peserta dari guru-guru sejarah wilayah karesidenan Surakarta.

Bentuk kegiatan dibagi dalam dua jenis yaitu kegiatan teori bertempat di MTs N 1 Surakarta dan kegiatan praktek di MAN 1 Surakarta. Namun kegiatan lebih banyak diarahkan ke praktek dalam bentuk Lesson study di MAN 1 Surakarta. Dalam kegiatan ini, peserta diminta mengadakan observasi di kelas dengang guru model yang telah ditunjuk yaitu Tataik Budi Raharti, S.Pd dan Rusdi Mustapa, S.Pd ( guru sejarah MAN 1 Surakarta). Dari hasil observasi kemudian peserta diminta menyusun PTK secara kelompok yang hasilnyadikumpulkan kepada Widyaiswara dari BDK. Widyaiswara adalah Gunawan, M.Pd dan Drs. Mahfudz, M.Pd. Diharapkan dengan kegiatan ini guru-guru sejarah MA Wilayah Kares. Surakarta tidak mengalami kesulitan lagi dalam menyusun PTK.

Berikut foto-foto kegiatan diklat :

MGMP – BRITISH COUNCIL GELAR SHARING PERUBAHAN IKLIM

18 Februari 2011

Dalam upaya meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, maka Seksi bidang Kegiatan Ilmiah MGMP Sejarah MA Karesidenan Surakarta, mengadakan kegiatan Sharing tentang Perubahan Iklim ( Climate Change ) yang dilaksanakan pada 19 Februari 2011 bertempat di MAN 1 Surakarta Jl. Sumpah Pemuda 25 Surakarta. Menurut  sekretaris MGMP Sejarah MA Karesidenan Surakarta Rusdi Mustapa, S.Pd, kegiatan ini sebagai bentuk kepdulian terhadap kondisi lingkungan terutama yang ada di lingkungan sekolah masing-masing dan juga sebagai tindak lanjut Pelatihan Climate Change yang telah diikuti oleh Beliau di Jakarta. Kegiatan ini mendapat dukungan sepenuhnya dari British Council Indonesia, sebuah lembaga Inggris yang bergerak di bidang pendidikan dan kebudayaan dengan memiliki cabang di hampir 100 negara.

Dalam kegiatan ini peserta akan diberikan informasi seputar kondisi bumi saat ini, terutama yang berhubungan dengan perubahan iklim dan bagaimana kita mensikapinya. Ke depannya diharapkan timbul kesadaran bersama, terutama di sekolah masing-masing, untuk berbuat sesuatu guna mengurangi dampak perubahan iklim dalam lingkup kecil di sekolah. Adapun pembicara dalam kegiatan ini adalah Hikmawati Maria Kusumawardani, S.Pd ( Trainer British Council, yang juga guru Geografi MAN 1 Surakarta) dan Rusdi Mustapa, S.Pd ( Trainer British Council, yang juga guru sejarah MAN 1 Surakarta). Hasil kegiatan haring selanjutnya akan dilaporkan kepada pihak British Council sebagai bahan masukan guna melaksanakan kegiatan Training selanjutnya. Semoga dari kegiatan ini dapat menggugah kepedulian kita bersama, khususnya bagi guru-guru sejarah yang selanjutnya bisa menyampaikan kepada siswa-siswinya.

Berikut foto-foto kegiatan sharing perubahan iklim :

Oleh-oleh Pelatihan Climate Change British Council

22 Januari 2011

Hari menjelang malam ketika aku dan rombongan peserta pelatihan Climate Change dan Connecting Classroom tiba Ponpes Darunnajah, Ulujami, Jakarta Selatan.  Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Ponpes ini, bayanganku langsung tertuju ke Pondok Pesantren Modern Assalam yang ada di Kartasura. Agak mirip memang jika dilihat dari konsep bangunan pesantren yang menyatu dengan pusat-pusat kegiatan ekonomi, Cuma kalau di Assalam selain dekat dengan pusat-pusat kegiatan ekonomi juga dekat dengan kampus (UMS).

Setelah tiba di Ponpes Darunnajah, aku dan rombongan langsung disuguhi makan malam, sebuah penyambutan yang sangat berkesan, karena tadi aku naik kereta api dari Semarang berangkat pukul 12.30 dan tiba di Jakarta pukul 19.30, perutku memang sudah keroncongan. Walau mata sudah tidak bisa diajak kompromi, aku nikmati dengan penuh semangat hidangan yang disajikan pihak tuan rumah. Aku juga belum memikirkan acara esok paginya karena pikiranku saat ini adalah segera  tidur di kamar dengan harapan semoga besok pagi lebih fresh.

Pagi itu, 26 Nopember 2010, aku merasakan suasana pagi yang segar di Ponpes Darunnajah yang penuh dengan kegiatan dari santri-santrinya. Aku sedikit membandingkan dengan Asrama Boarding School yang ada di sekolahku. Rasanya masih jauh banget suasananya. Di Ponpes Darunnajah, semua santri sudah bisa melaksanakan kegiatan yang sudah terjadwal dengan penuh kesadaran dan mereka sudah terbentuk serta terkondisi dengan kedisiplinan yang tinggi. Tapi aku yakin suatu saat Boarding School juga akan seperti Ponpes Darunnajah. Amien.

Oya, aku sampai lupa menceritakan kegiatan pelatihan Climate Change dan Connecting Classroom yang sedang aku ikuti. Kegiatan yang diadakan oleh British Council ini bertujuan untuk memberdayakan sekolah-sekolah Islam di Indonesia, khususnya tentang isu perubahan cuaca yang akhir-akhir ini dialami oleh hampir semua negara di dunia. Tujuan pelatihan yang berhubungan dengan perubahan iklim ini adalah agar guru sebagai pihak yang selalu berinteraksi dengan siswa, ikut menyampaikan kepada siswa tentang perubahan iklim yang akibat lebih luas akan dirasakan oleh anak cucu di kemudian hari. Sehingga akan muncul kesadaran untuk lebih ramah dengan lingkungan yang dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Karena waktu penyampaian materi, aku dan teman-teman diperlihatkan tayangan tentang bahaya perubahan iklim yang berakibat sangat luas bagi manusia. Mungkin saat ini kita sudah merasakan sedikit akibat dari perubahan iklim, seperti misalnya cuaca yang tidak menentu, udara yang semakin panas, atau yang dirasakan oleh petani-petani kita yang mengalami gagal panen karena lahan pertaniannya mengalami banjir. Ini semua adalah akibat yang mulai terasa dari adanya perubahan iklim. Lalu, apakah yang menyebabkan terjadinya perubahan iklim itu? Salah satu yang disampaikan oleh Mrs. Gracia ( staff BC), adalah adanya efek rumah kaca dimana akibat yang sudah kita rasakan adalah suhu udara saat ini semakin panas dan berakibat lapisan es di kutub utara mencair. Apa kibat yang timbul? Kota-kota yang ada di pinggir pantai akan tenggelam secara perlahan, yang waktu aku berangkat dari Stasiun Tawang Semarang kamis yang lalu, aku sudah melihat sendiri bagaimana kota Semarang selalu banjir apabila musim hujan tiba. Karena kota Semarang letaknya lebih rendah dari laut. Ini satu contoh saja akibat perubahan iklim. Kemudian akibat lain perubahan iklim adalah munculnya bibit-bibit penyakit baru yang sebelumnya tidak dikenal seperti misalnya H2N1 ( Flu Burung), yang ternyata salah satunya disebabkan oleh perubahan iklim.

Lalau apa yang harus kita lakukan ?

Menghadapi kondisi ini apakah kita selaku warga bumi tinggal diam saja ataukah kita perlu melakukan langkah-langkah rehabilitasi ? karena kalau langkah preventif rasanya sudah terlambat, walaupun itu juga bisa dilakukan, tapi yang penting saat ini adalah bagaimana membangkitkan kesadaran bersama tentang  pengaruh perubahan iklim bagi manusia yang selanjutnya disikapi dengan melakukan upaya-upaya yang terencana untuk menyelamatkan bumi dan kehidupan.

Pada hari Sabtu, aku menerima materi tentang Connecting Classroom, yaitu suatu upaya untuk menjalin komunikasi dengan sekolah-sekolah di luar negeri dalam suatu jaringan kerjasama dalam hal tukar menukar informasi, sharing dan berdiskusi tentang kegiatan sekolah masing-masing. Untuk bisa bergabung dalam jaringan komunikasi ini, peserta harus melakukan registrasi ke website british council di www.britishcouncil.or.id yang selanjutnya akan dipandu untuk pengisiannya. Diharapkan setelah mengikuti  Pelatihan Connecting Classroom ini, sekolah mampu mengembangkan jaringan komunikasi ini lebih luas lagi ke semua sekolah di seluruh dunia sehingga akan tercipta suatu networking secara dunia.

Itulah oleh-oleh yang aku dapatkan selama mengikuti kegiatan Pelatihan Climate Change dan Connecting Classroom yang diadakan oleh British Council tanggal 26 – 28 Nopember 2010. Semoga apa yang telah aku dapatkan selama pelatihan dapat aku implementasikan di sekolah tercinta sehingga memberi warna baru bagi sekolahku.

Berikut album kegiatan pelatihan yang aku ikuti :

 

Rusdi Mustapa, S.Pd  ( Sekretaris MGMP Sejarah Karesidenan Surakarta)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.