Skip to content

Oleh-oleh Pelatihan Climate Change British Council

22 Januari 2011

Hari menjelang malam ketika aku dan rombongan peserta pelatihan Climate Change dan Connecting Classroom tiba Ponpes Darunnajah, Ulujami, Jakarta Selatan.  Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Ponpes ini, bayanganku langsung tertuju ke Pondok Pesantren Modern Assalam yang ada di Kartasura. Agak mirip memang jika dilihat dari konsep bangunan pesantren yang menyatu dengan pusat-pusat kegiatan ekonomi, Cuma kalau di Assalam selain dekat dengan pusat-pusat kegiatan ekonomi juga dekat dengan kampus (UMS).

Setelah tiba di Ponpes Darunnajah, aku dan rombongan langsung disuguhi makan malam, sebuah penyambutan yang sangat berkesan, karena tadi aku naik kereta api dari Semarang berangkat pukul 12.30 dan tiba di Jakarta pukul 19.30, perutku memang sudah keroncongan. Walau mata sudah tidak bisa diajak kompromi, aku nikmati dengan penuh semangat hidangan yang disajikan pihak tuan rumah. Aku juga belum memikirkan acara esok paginya karena pikiranku saat ini adalah segera  tidur di kamar dengan harapan semoga besok pagi lebih fresh.

Pagi itu, 26 Nopember 2010, aku merasakan suasana pagi yang segar di Ponpes Darunnajah yang penuh dengan kegiatan dari santri-santrinya. Aku sedikit membandingkan dengan Asrama Boarding School yang ada di sekolahku. Rasanya masih jauh banget suasananya. Di Ponpes Darunnajah, semua santri sudah bisa melaksanakan kegiatan yang sudah terjadwal dengan penuh kesadaran dan mereka sudah terbentuk serta terkondisi dengan kedisiplinan yang tinggi. Tapi aku yakin suatu saat Boarding School juga akan seperti Ponpes Darunnajah. Amien.

Oya, aku sampai lupa menceritakan kegiatan pelatihan Climate Change dan Connecting Classroom yang sedang aku ikuti. Kegiatan yang diadakan oleh British Council ini bertujuan untuk memberdayakan sekolah-sekolah Islam di Indonesia, khususnya tentang isu perubahan cuaca yang akhir-akhir ini dialami oleh hampir semua negara di dunia. Tujuan pelatihan yang berhubungan dengan perubahan iklim ini adalah agar guru sebagai pihak yang selalu berinteraksi dengan siswa, ikut menyampaikan kepada siswa tentang perubahan iklim yang akibat lebih luas akan dirasakan oleh anak cucu di kemudian hari. Sehingga akan muncul kesadaran untuk lebih ramah dengan lingkungan yang dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Karena waktu penyampaian materi, aku dan teman-teman diperlihatkan tayangan tentang bahaya perubahan iklim yang berakibat sangat luas bagi manusia. Mungkin saat ini kita sudah merasakan sedikit akibat dari perubahan iklim, seperti misalnya cuaca yang tidak menentu, udara yang semakin panas, atau yang dirasakan oleh petani-petani kita yang mengalami gagal panen karena lahan pertaniannya mengalami banjir. Ini semua adalah akibat yang mulai terasa dari adanya perubahan iklim. Lalu, apakah yang menyebabkan terjadinya perubahan iklim itu? Salah satu yang disampaikan oleh Mrs. Gracia ( staff BC), adalah adanya efek rumah kaca dimana akibat yang sudah kita rasakan adalah suhu udara saat ini semakin panas dan berakibat lapisan es di kutub utara mencair. Apa kibat yang timbul? Kota-kota yang ada di pinggir pantai akan tenggelam secara perlahan, yang waktu aku berangkat dari Stasiun Tawang Semarang kamis yang lalu, aku sudah melihat sendiri bagaimana kota Semarang selalu banjir apabila musim hujan tiba. Karena kota Semarang letaknya lebih rendah dari laut. Ini satu contoh saja akibat perubahan iklim. Kemudian akibat lain perubahan iklim adalah munculnya bibit-bibit penyakit baru yang sebelumnya tidak dikenal seperti misalnya H2N1 ( Flu Burung), yang ternyata salah satunya disebabkan oleh perubahan iklim.

Lalau apa yang harus kita lakukan ?

Menghadapi kondisi ini apakah kita selaku warga bumi tinggal diam saja ataukah kita perlu melakukan langkah-langkah rehabilitasi ? karena kalau langkah preventif rasanya sudah terlambat, walaupun itu juga bisa dilakukan, tapi yang penting saat ini adalah bagaimana membangkitkan kesadaran bersama tentang  pengaruh perubahan iklim bagi manusia yang selanjutnya disikapi dengan melakukan upaya-upaya yang terencana untuk menyelamatkan bumi dan kehidupan.

Pada hari Sabtu, aku menerima materi tentang Connecting Classroom, yaitu suatu upaya untuk menjalin komunikasi dengan sekolah-sekolah di luar negeri dalam suatu jaringan kerjasama dalam hal tukar menukar informasi, sharing dan berdiskusi tentang kegiatan sekolah masing-masing. Untuk bisa bergabung dalam jaringan komunikasi ini, peserta harus melakukan registrasi ke website british council di www.britishcouncil.or.id yang selanjutnya akan dipandu untuk pengisiannya. Diharapkan setelah mengikuti  Pelatihan Connecting Classroom ini, sekolah mampu mengembangkan jaringan komunikasi ini lebih luas lagi ke semua sekolah di seluruh dunia sehingga akan tercipta suatu networking secara dunia.

Itulah oleh-oleh yang aku dapatkan selama mengikuti kegiatan Pelatihan Climate Change dan Connecting Classroom yang diadakan oleh British Council tanggal 26 – 28 Nopember 2010. Semoga apa yang telah aku dapatkan selama pelatihan dapat aku implementasikan di sekolah tercinta sehingga memberi warna baru bagi sekolahku.

Berikut album kegiatan pelatihan yang aku ikuti :

 

Rusdi Mustapa, S.Pd  ( Sekretaris MGMP Sejarah Karesidenan Surakarta)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: